Welcome to my Page

Welcome to my Page
Siti Aliyah's BLOG :)

Senin, 10 Juni 2013

Nasihat kecil untuk kita :)

AKAN DATANG SUATU ZAMAN, ORANG YANG BERPEGANG REGUH DIATAS AGAMANYA, IBARAT MEMEGANG BARA API


Ana tulis untuk saudaraku yang sedang memperjuangkan Al haq, semoga Allah menjagamu dan tetap tegar diatas sunah walau dalam keadaan sendirian.

Allah subhanallahuwata’ala Maha menyaksikan segala sesuatu, Maha menjaga dan maha mengawasi segala sesuatu. Apa saja yang kitalakukan. Allah melihatnya. Maka setiap mukmin wajib menghadirkan masalah ini, yakni muraqobatullah, sikab merasa diawasi oleh Allah. Bahwa Allah maha melihat segala sesuatu dan Maha mendengar. Allah maha meliputisegala sesuatu, Maha mengetahui segala pandangan mata yang khianat serta apa yang tersembunyi dariNya.

Barang siapa diberi taufiq oleh Allah serta dianugerahi keadaan baik seperti ini, maka sesungguhnya perkara tersebut merupakan salah satu diantara randa tanda ketegaran serta keistiqomahannya InsyaAllah.

Ya, itu merupakan tanda tanda serta kabar gembira, bahwa seorang mukmin tadi berada diatas ketegaran dan keistiqamahan, InsyaAllah. Akan tetapi hendaknya jangan sampai ia menjadi penat atau merasa bosan untuk senantiasa bersandar, berserah diri dan memohon kepada Allah. Bagaimana tidak? Padahal Rasulullah Shallalahui’alaihi wasalam, selalu memohon dan memperbanyak doa ini.

يا مقلب القلوب ثبت قلو بنا على دينك

“wahai zat yang membolak balikkan hati, kokohkanlah hati hati kami diatas agamamu”.

Bagaimana mingkin kita merasa aman jikalau seorang tiba tiba menyimpang kemudian menjadi sesat hatinya?? Demi Allah, tidak ada yang merasa dirinya aman dari hal tersebut kecuali seorang munafiq. Dan tidak yang merasa khawatir akan tertimpa hal tersebut, kecuali dia benar benar seorang mu’min.

Maka sudah seharusnya kita takut kepada allah. Akan tetapi sikap takut ini hendaknya pula tidak boleh berlebihan hingga melampaui batas. hendaknya khauf (rasa takut)nya sebanding dengan raja’(rasa harab)nya. Hingga apabila maut(kematian) hendak menjemput, maka barulah sejak saat itu seorang mukmin hendaknya memparbesar raja’(rasa harap)nya , dan ia berperasangka baik(husnudzan) kepada Allah.

Allah berfirman :

ولا تركنوا الى الذين ظلموا فتمسكم النار ومالكم من دون الله من اولياء ثم لا تنصرون هود : 113

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang orang dhalim yang menyebabkan kaliam disentuh api neraka, dan sekali kali kalian tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan”.

(yaitu) kecenderungan orang orang dhalim, yang biasa menganiyaya manusia, baik itu urusan darah, harta dan kehormatan, ataupun dalam urusan agama mereka melalui berbagai kebid’ahan, kesesatan serta menyebarluaskan propaganda propaganda dan semisalnya yang berbahaya melawan ajaran Islam. Maka janganlah kalian condong kepada salah satu dari orang orang seperti ini. Jangan engkau tolong diatas kebathilannya, dan jangan pula kau bantu mereka.

Ayat diatas mencakup segala macam perkara tersebut, dikarenakan setiap pelaku kebid’ahan adalah juga seorang yang dhalim. Setiap tokoh ahli bid’ah (mubtadi’) adalah seorang yang dhalim. Demikian orang orang yang melanggar kehormatan kaum muslimin, maka ia juga tergolong sebagai orang yang dholim.

Oleh sebab itu janganlah engkau cenderung kepada salah seorang dari mereka, sehingga engkau dapat terjilat api neraka. Karena setiap kali engkau cenderung kepada orang fasiq atau kepada seorang ahli bid’ah yang sesat ataupun kepada seorang dholim lagi pendosa yang biasa melanggar batas batas kehormatan kaum muslimin dan kehormatan syari’at, berarti engkau telah ridho (rela dan setuju) terhadapnya, dan bahkan seolah olah engkau turut membantu serta menguatkannya.

Pada dari itu hendaknya seorang mukmin berhati hati dan waspada agar tidak terjatuh pada sikap condong yang membinasakan semacam tadi.

Allah berfirman :

ولولا ان ثبتنك لقد كدت تركن اليهم شيئا قليلا (74) اذا لاءذقنك ضعف الحيوة وضعف الممات ثم لا تجد لك علينا نصيرا :

“Dan kalau Kami tidak memperkuat hatimu, niscaya engkau hampir hampir codongsedikit saja kepada mereka. Kalau terjadi demikian, maka benar benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda didunia ini dan bergitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan engkau tidak akan mendapati seorang penolongpun terhadap kami.” Al isra’ 74-75

Allah menyatakan (dalam ayat diatas) kepada rasulnya shallaahu’alaihi wasalam (tentang kecondongan).”…..sediki saja…..”

Oleh karena itu seorang mu’min, haruslah berhati hati dan waspada dari kecondongan seperti ini. Bisa jadi hal tersebut bisa menjadi salah satu penyebab yang dapat menghantarkannya kepada penyimpangan dan kesesatan – kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

Allah berfirman :

فلما زاغوا ازاغ الله قلوبهم, والله لا يهدى القوم الفسقون (الصف 5)

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) Allahpun memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasiq.”

Dari sahabat Hudzaifah radhiallah’anhu, bahwa beliau pernah menceritakan : Suatu ketika kami berada disisi Umar radhiallahu’anhu, kemudian berkata :

“Siapa diantara kalian yang pernah mendengar Rasulullah shalallahualaihi wasalam menyebutkan tentang perkara perkara fitnah?”

Maka serempak kami menjawab :

“Kami pernah mendengarnya”.

Kemudian beliau berkata lagi :

“Mungkin yang kalian maksud ialah tentang fitnah seseorang karena keluarga dan tetangganya?”

Mereka menjawab :

“ya”

Beliau berkata :

“adapun itu, maka dapat dihapus dengan ibadah shalat, puasa dan sedekah. Akan tetapi (yangkumaksud) , siapa diantara kalian yang pernah mendengar nabi shallallahu’alaihi wasalam menyebutkan tentang suatu fitnah yang datang layaknya ombak lautan?

Berkata Hudzaifah radhiallaahu’anhu

Maka terdiamlah mereka akupun berkata :

“aku (pernah mendengarnya)”

Kemudian’ umar radhiallaahu’anhu mengatakan :

“ya engkau, ayahmu milik Allah (alangkah hebatnya engkau)!”

Berkata hudzaifah radhiallahu’anhu :

Aku pernah mendengar Rasulullah shalallaahu’alaihi wasalam bersabda :

تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودا عودافاي قلب اشربها نكت فيه نكته سوداء واي قلب انكرها نكت فيه نكتهة بيضاء حتى تصير على قلبين على ابيض مثل الصفا فلا تضره فتنة ما دامت السماوات والارض والاخر اسود مربادا كالكوز مجخيا لايعرف معروفا ولا ينكر منكرا الا ما اشرب من هواه

“Akan terbentang berbagai fitnah yang menimpa hati hati (manusia) layaknya tikar, berulang dan (semakin) berulang. Maka hati manapun yang menyerapnya, niscaya akan tertoreh padanya setitik bercak noda putih. Sehingga jadilah dua macam hati : Hati yang putih bersih layaknya batu keras yang halus mulus. Tidak akan membahayakannya suatu fitnahpun selama masih ada langit dan bumi. Adapun hati yang lainnya, hitam kelam, layaknya cangkir yang terjungkir. Ia tidak mengenali yang ma’ruf. Tdak pula mengingkari yang mungkar, melainkan hanya apa yang diserap dari hawa nafsunya”. Diriwayatkan oleh muslim rahimahullah dalam kitab shahihnya juga yang yg selain beliau.”

Hati yang putih bersih layaknya batu keras yang halus,” yakni dengan sebab pengokohan dari Allah.

Allah mengokohkan orang tersebut, karena penolakannya terhadap kebatilan, syahwat serta subhat. Fitnah itu dapat berupa perkara duniawiyah, seperti fitnah sahwat yang dapat mencelakakanmu. Dan dapat pula berupa syubhat, bid’ah bid’ah, berbagai kesesatan dan yang semisalnya, sehingga dapat menghantarkan pelakunya pada apa yang telah didalam hadits: “Adapun hati yang lainnya hitam kelam layaknya “ cangkir yang terjungkir”. Ia tidak mengenali yang ma’ruf. Tidak pula mengingkari yang mungkar,….”

Ini semua bermula dari sikap condong terhadap pelaku kebathilan atau bahkan membantunya. Dimulai dari setitik noda hitam, kemudian semakin melebar. Setiap kali ada kecenderungan terhadap kebathilan, berjalan bersama pelaku kebathilan serta orang orang yang menyesatkan, maka jadilah berbalik hatinya- kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.-

Keadaannya sebagaimana cangkir dibalikkan kebawah (tertelungkup), maka seberapapun banyaknya air didunia ini dituangkan kepadanya, maka tetaplah air itu tidak akan masuk kedalam cangkir tersebut, walau hanya setetes!!

Demikianlah jadilah keadaan hatinya. Engkau bacakan al qur’an, hadits, sekian petuah dan nasehat kepadanya, maka tetap saja ia tidak mau menerimanya, sedikitpun. Engkau bacakan padanya ayat ayat, berbagai dalil dan penjelasan, akan tetapi ia tetap tidak menyambutnya. Kenapa ?? karena hatinya telah tertelungkup akibat sikap penolakannya (apatis) yang mendasar lagi mendarah daging, sehingga sampailah hatinya pada keadaan yang hitam kelam lagi mati – kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut - Jadilah keadaannya :”…. Tidak mengenali yang ma’ruf, tidak pula mengingkari yang mungkar, melainkan hanya menerima apa saja yang diserap dari hawa nafsunya.”

Ini akibat dari penyimpangan dan sikap penentangan yang wajib mesti diwaspadai oleh setiap muslim. Disamping itu, hendaknya ia selalu memohon kepada Allah setiap waktu agar dikokohkan hatinya diata agama yang haq.

Disana terdapat semakin banyak contoh tentang sikap tegar diatas al haq.Dan contoh yang paling mengagumkan adalah sikap tegarnya para nabi beserta para shahabat nabi tersebut yang mengikuti petunjuk mereka (shallallahu’alaihi wasalam). Adapun sebaik baik shahabat adalah para shahabat nabi Muhammad shallaahu’alaihi wasalam.

Setiap orang mendampingi para nabi, maka ia memiliki keutamaan dibanding orang orang yang muncul setelahnya dari kalangan umat nabi tersebut. Dan para sahabat nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wasalam, merupan golongan terbaik dari umat ini dan lebih utama daripada semua orang yang datang setelah mereka.

Seandainya salah seorang diantara kita menginfakkan emas sebesar gunung uhud sekalipun, niscaya tidaklah jumlah tersebut dapat menyamai sebesar satu mud (sepasang genggaman tangan)pun dari infaq para shahabat, bahkan tidak pula separuhnya. Mereka memiliki kekutaan yang lebih karena sebab terdahulunya mereka (dari yang lain). Allah telah berfirman :

كنتم خير امة اخرجت للناس تاءمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله

“kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegag ma’ruf, dan mencegaah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” Ali imran 110

Maka sahabat shallallaahu’alaihi wasalam merupakan sebaik baik manusia setelah para nabi.Terlebih lagi adalah golongan shahabat (assabiqunal awwalun) generasi yang terdahulu yang lebih awal dalam memeluk Islam, dari kalangan Muhajirin dan anshar. Mereka telah memberi contoh contoh yang sangat menakjubkan dalam ketegeran.

Dikota Mekkah contohnya, bagaimana mereka disiksa, diusir, dianiaya, bahkan sebagiannya dibunuh, sebagaimana yang terjadi pada Abu Ammar (yasir), beserta ibunya Sumayyah adhiallaahu’anhu. Mereka berdua terbunuh dalam keadaan tetap bersabar diatas penyiksaan dan tetap tegar hingga ajal menjemput.

Demikian pula Bilal radhiallaahu’anhu, dibawa ketanah lapang kota Makkah dalam keadaan cuaca panas terik. Setelah itu beliau ditindih dengan batu besar yang panas menyengat diatas dadanya. Sementara itu orang orang terus memukuli dan menyakitinya. Sedangkan anak anak mempermainkan dan mengejeknya. Tetapi beliau radhiallaahu’anhu tetap tegar sembari berkata :

“ Ahad….. Ahad….” , yakni bahwa Allah adalah satu satunya sesembahan yang haq dan tiada sekutu baginya. Bukan Latta. Tidak pula Uzza.

Betapa banyak gangguan yang dijumpai para sahabat radhiallaahu’anhu. Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam sendiri mendapatkan gangguan yang dijumpai yang dahsyat diMakkah. Kaum beliau sendiri, orang orang Quraisy sering menyakitinya. Hingga pernah suatu ketika, tokoh tokoh jahat mereka menyuruh agar dilempari kotoran unta keatas punggung (leher) beliau shallallahu’alaihi wasalam disaat beliau sedang bersujud.

Demikian pula Abu bakar As Siddiq radhiallahu’anhu, kaumnya itu juga telah menyakitinya sampai beliau sempat pergi berhijrah meninggalkan tempatnya. Kemudian beliau kembali pulang dibawah jaminan Ibnu Ad-Daghannah.

Suatu ketika, beliau melantunkan bacaan Al Qur’an hingga menyebabkan anak anak dan para wanita berkerumun disekitar beliau, maka jadilah orang orang Quraisy khawatir kalau para wanita dan anak anak mereka masuk memeluk agama Allah yang haq. Akhirnya mereka berusaha menghalangi beliau dari sholatnya. Mereka menuntut kepada Ibnu Daghannah yang menjamin keselamatan diri Abu bakar radhiallahu’anhu agar membuat beliau diam, atau (kalau tidak) hendaknya ia lepaskan jaminan yang ditanggungnya tersebut dari diri Abu Bakar radhiallaahu’anhu.

“Pilihlah antara engkau kembalikan jaminanku atas dirimu sehingga engkau tanggung sendiri urusanmu, atau engkau berhenti dan tinggalkan apa yang kau lakukan ini !!”

Segera Abu Bakar radhiallahu’anhu menjawab :

“aku kembalikan jaminanmu atas diriku dan aku tetap berada dibawah jaminan Allah.”

Mereka semua bersabar sekian lama atas berbagai gangguan yang dahsyat. Sekalipun demikian, mereka tetap tidak mengubah atau mengganti agama mereka. Tidak pula dijumpai salah seorang diantara mereka yang murtad karena murka terhadap agama tersebut, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Abu Sufyan Radhiallaahu’anhu didalam haditsnya yang masyhur.

Ketika itu Hiraql bertanya kepadanya :

Siapakan pengikut Muhammad itu? Apakah mereka dari golongan lemah ataukah golongan terhormat ?”

Abu Suyan menjawab :

“Bahkan mereka dari golongan lemahnya”.

Hiraql berkata lagi :

“itulah memang pengikut para nabi…! Dan apakah ada diantara mereka yang kemudian murtad karena murka terhadap agamanya?”

Abu sufyan menjawab :

“Tidak ada”.

Para sahabat radhiallahu’anhu tela ridha Allah sebagai Rabb mereka, Islam sebagai agama mereka dan Muhammad shallallahu’laihi wasalam sebagai rasul mereka. Mereka pernah hijrah kenegeri Habasyah. Juga berhijrah dikota Madinah dalam keadaan bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah. Mereka sungguh telah bersabar, menyabarkan diri, menjaga perbatasan (ribath) serta berjihad. Pada saat Rasulullah shallallahu’allaihiwasam wafat, maka murtadzlah mayoritas bangsa Arab setelah itu. Tetapi para sahabat radhiallahu’anhu tetap tegar, sabar menghadapi gerakan kemurtadan tersebut, hingga dapat menumpasnya.

Adapun pucuk pimpinan orang orang yang tegar tersebut adalah Abu Bakar Ash Shidiq radhiallahu’anhu. Beliau mengatakan :

“ Deni Allah, seandainya mereka menahan seekor anak kambing betina sekalipun atau zakat hewan ternak yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah shallaallahu’alaihi wasalam, maka pasti aku akan perangi mereka karenanya !!”

Padahal sungguh, ada juga sebagian shahabat yang juga turut mengingkari beliau dalam permasalahan memerangi orang orang yang murtad tersebut. Tetapi, demikian ucapan Abu Bakar As Sidiq radhiallahu’anhu. “Demi Allah, seandainya mereka menahan seekor anak kambing betina sekalipun atau zakat hewan ternak yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah shallaallahu’alai wasalam, maka pasti aku akan perangi mereka karenanya !!”

Para sahabatpun akhirnya rela menerima pendapat beliau yang lurus itu hinga mereka turut berperang bersama dengan tetap bersikap tegar.

Mereka terus memerangi hingga Allah kembalikan orang orang murtad itu kedalam lingkaran Islam. Bahkan mereka juga beranjak serempak guna membuka penaklukan penaklukan daerah dalam keadaan mereka kokoh dan berlomba lomba untuk menggapai keredhaan Allah serta syhadah dijalannya. Mereka serahkan harta dan darah mereka demi membela agama Allah, serta meninggikan kalimatNya. Merekalah tauladan yang begitu mengagumkan dalam bersikap tegar diatas Islam hingga ajal menjemput.

http://ashhabulhadits.wordpress.com/tag/الثبات-على-السنة-tegar-diatas-sunnah/

Tidak ada komentar: